Serial Fiqih Pendidikan Anak No 139: Melatih Konsisten Fokus

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 139

MELATIH KONSISTEN FOKUS

Orang tua teladan akan fokus kepada hal-hal positif yang ada dalam diri anak. Misalnya lebih fokus pada perilaku baik anak, bukan perilaku buruknya. Lebih fokus pada kelebihan anak, bukan kekurangannya. Lebih fokus pada solusi, bukan masalah.

Namun, konsisten untuk selalu fokus ternyata tidak mudah. Perlu upaya dan pembiasaan yang diinternalisasi sebagai sikap hidup.

Berikut beberapa upaya pembiasaan yang mudah lagi bermanfaat bagi orang tua dan anak:1

Pertama: Teladan. Anda bisa mencontohkan bagaimana Anda menggeser fokus dari negatif ke positif dan perubahan besar yang diperoleh. Ceritakan bahwa hari ini Anda nyaris buruk. Saat hujan turun, jalanan macet, terlambat tiba di kantor dan tangan terjepit pintu mobil. Tapi Anda menolak untuk terus berfokus pada ketidaknyamanan. Anda lalu menyebutkan hal-hal baik yang terjadi hari itu. Ternyata lebih banyak! Anda bersyukur. Hasil yang diperoleh hari Anda menjadi cerah.

Kedua: Tanyakan hal-hal menyenangkan di sekolah. Anda bisa melakukannya ketika menyambut anak sepulang sekolah dengan pelukan. Mungkin dia akan lebih dahulu bercerita tentang hal-hal buruk yang dialaminya. Simaklah. Anda akan mendapatkan informasi penting tentang sekolah dari ceritanya. Setelah itu, untuk membangkitkan semangatnya, tanyakan satu-dua hal menyenangkan. Pada awalnya, mungkin dia sulit menjawab. Sebab kita terbiasa mengingat peristiwa besar, dan mengabaikan hal-hal kecil. Anda bisa memberikan contoh hal kecil yang menyenangkan Anda di sekolah dahulu. Seperti dikasih buah mangga oleh tukang sapu sekolah, sebab datang pertama kali ke sekolah.

Ketiga: Fokus pada salah satu anggota keluarga. Untuk hal ini, sangat bagus bila memanfaatkan momen makan malam bersama. Malam ini mungkin yang menjadi fokus adalah kakak. Kakak boleh bercerita, sedangkan yang lain mendengarkan. Atau ditanya-tanya tentang keinginannya, cita-citanya atau hal lainnya.

Keempat: Bersama anak, buatlah daftar keinginan masing-masing. Apa saja, tanpa perlu memikirkan hambatannya. Jelaskan bahwa keinginan kita bisa tercapai, seizin Allah, bila kita percaya mampu mencapainya. Jika tidak sekarang, maka suatu saat nanti.

Kelima: Menggali pelajaran positif dari kejadian. Lakukan kajian bersama anak terhadap peristiwa-peristiwa positif keluarga Anda. Apa yang bisa dipetik dari sana.

Keenam: Tulislah komentar positif. Gunakan secarik kertas untuk menuliskan komentar positif dan selipkan di tempat tak terduga untuk ditemukan anak. Kejutan seperti ini dapat menjadi selingan menyenangkan ketika pujian secara langsung sudah terasa hambar.

Ketujuh: Merencanakan aktivitas setelah sembuh. Ketika anak Anda atau anggota keluarga lain sakit, alih-alih berfokus pada rasa sakit dan ketidaknyamanannya, Anda bisa menanyakan apa rencananya setelah sembuh.

Kedelapan: Ajari cara membuat daftar hal penting. Tunjukkan kepada anak Anda cara membuat daftar penting yang harus dilakukan hari ini. Daftar ini biasanya hanya memuat hal-hal yang tidak rutin. Berarti tidak mencakup sarapan, mandi dan tidur. Contoh daftar tersebut: menelepon kakek di kampung, bersepeda bersama anak-anak, menambal bak mandi, menengok anak tetangga yang baru pulang dari rumah sakit. Anak Anda bisa mencontohnya. Daftarnya bisa berisi: mengganti air ikan cupang peliharaan, bersepeda dengan Ayah-Bunda dan memasang roda mobil-mobilan yang lepas. Jangan heran jika daftarnya mirip dengan daftar Anda.

Kesembilan: Ajari cara mengevaluasi daftar. Di penghujung hari, Anda bisa memperlihatkan kepada anak-anak bagaimana mengevaluasi daftar pekerjaan. Anda membuat tanda centang pada hal-hal yang sudah dilakukan. Melingkari hal-hal yang belum terlaksana. Apa alasannya, kapan hal itu harus dicoba lagi. Misalnya, Anda sudah mencoba menambal bak mandi, tapi masih ada kebocoran. Anda harus menyerahkan pekerjaan ini kepada ahlinya. Anda akan memanggil tukang. Masukkan ini ke dalam daftar pekerjaan besok. Lalu Anda bisa membantu anak Anda mengevaluasi daftarnya.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 23 Muharram 1441 / 23 September 2019

1 Dinukil dengan sedikit editing oleh Abdullah Zaen dari Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan Baihaqi (hal. 122-123).

Leave a Comment