Serial Fiqih Pendidikan Anak No 140: Menjadi Pendengar Baik

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 140

MENJADI PENDENGAR BAIK1

Telinga adalah indra yang selalu aktif. Bahkan pada saat kita tidur. Telinga tidak berhenti mendengar. Bertanyalah kepada orang yang tinggal di pinggir rel kereta api. Apakah mereka terganggu oleh suara kereta api yang lewat? Mungkin mereka akan menjawab, “Ya, terganggu, jika terlalu memperhatikan. Namun kami sudah biasa”.

Karena sudah terbiasa, sehingga otak mereka memutuskan untuk mengabaikannya.

Bayi yang terbiasa tidur dalam suasana sunyi (karena kakak-kakaknya dibungkam orang tua mereka) akan lebih mudah terbangun oleh kebisingan kecil. Namun, jika terbiasa tidur dalam suasana wajar yang di dalamnya sesekali ada jerit-tawa kakak-kakaknya, dia akan tidur pulas tanpa terganggu.

Berbagai contoh di atas menunjukkan bahwa telinga kita sesungguhnya terus mengirimkan sinyal-sinyal bunyi ke dalam otak. Tapi, otak kita bisa memilih mana yang perlu didengarkan dan mana yang harus diabaikan.

Realita membuktikan bahwa tidak sedikit orang tua yang mendengar, tapi sebenarnya tidak mendengar.

Allah ta’ala mengingatkan,

وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ قَالُوا سَمِعْنَا وَهُمْ لا يَسْمَعُونَ

Artinya: “Janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang berkata, “Kami mendengarkan”. Padahal mereka tidak mendengarkan”. QS. Al-Anfal (8): 21.

Maka janganlah kita menjadi menjadi pendengar yang buruk untuk anak. Seakan-akan mendengar, tetapi sebenarnya tidak. Sebab otak melanglang buana kesana kemari. Mata juga tidak lepas dari layar HP yang berada di genggaman. Tidak fokus dengan apa yang sedang diomongkan anak.

Lebih parah lagi, ada orang tua yang malah menghardik anaknya, saat sang buah hati ingin bercerita. Na’udzu billah min dzalik.

Empati dan Aktif saat Mendengar

Pendengar baik itu adalah yang mendengarkan dengan penuh perhatian atau menyimak. Lalu menanggapi saat diperlukan.

Dikisahkan bahwa suatu saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdiskusi dengan ‘Utbah bin Rabi’ah. Ternyata beliau menyimak dengan seksama obrolan Utbah hingga selesai. Tanpa memotong sedikitpun ucapannya. Dalam kitab Sirah Ibn Ishaq diceritakan,

حَتَّى إِذَا فَرغ عَنْهُ وَرَسُولُ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وسلميَسْتِمعُ مِنْهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى اللَّه عليه وسلم-: أفَرَغْتَ يَا أبَا الوَلِيدِ؟، قالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَاسْمَعْ مِنِّى، قَالَ: أَفْعَلُ“.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam masih terus menyimak pembicaraannya hingga selesai. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau sudah selesai?”.

Sudah”.

Sekarang dengarkan apa yang akan kusampaikan”.

Siap” jawab Utbah.

Mendengarkan dengan empati berarti si pendengar menempatkan dirinya pada posisi si pembicara. Sehingga si pembicara terdorong untuk lebih terbuka. Si pendengar menemani si pembicara dalam momen kegembiraan, kesedihan, ketakutan dan kemarahan. Tentunya dengan cara yang benar.

Sedangkan mendengarkan secara aktif, adalah menggunakan cara-cara efektif untuk membuat si pembicara tahu bahwa dia didengarkan. Misalnya pendengar melakukan kontak mata dengan si pembicara, memperhatikan bahasa tubuhnya, mengulang apa yang didengarnya. Juga tidak terburu-buru memberikan tanggapan, hingga dia selesai mengungkapkan isi hatinya.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1441 / 14 Oktober 2019

1 Disarikan dengan berbagai tambahan oleh Abdullah Zaen dari Yuk, Jadi Orang Tua Shalih, karya Ihsan Baihaqi (hal. 128-129).

Leave a Comment