Serial Fiqih Pendidikan Anak No 145: DEKAT BELUM TENTU BERSAMA

Banyak orangtua bekerja yang disibukkan dan dibuat stres dengan tuntutan pekerjaan dan karier. Belum lagi kekhawatiran orangtua mengenai kondisi keuangan yang memberikan tekanan tersendiri bagi keluarga.

Bagaimanapun kondisinya, adalah tugas orangtua untuk tetap membangun kedekatan dengan anak-anaknya. Menciptakan hubungan emosi positif yang bermanfaat dan berdampak besar bagi anak.

Langkah-langkah berikut bisa dijalankan untuk membangun kedekatan dengan anak di tengah kesibukan:

Pertama: Sesibuk apapun Anda, sediakan waktu bersama anak. Walaupun hanya setengah jam sehari.

Kedua: Bersama anak tidak sama dengan berada di dekat anak. Banyak orangtua hadir 24 jam sehari di dekat anak. Namun ternyata tidak bersama anak, barang 5 menit sekalipun.

Bersama anak berarti Anda benar-benar berdua dengan anak. Tidak ‘bertiga’ dengan HP, televisi atau kompor. Tidak ‘berempat’ dengan komputer dan pekerjaan.

Bersama anak berarti Anda berbicara dengan anak, bukan sekedar berbicara kepada anak. Namun Anda aktif mendengarkan anak berbicara. Bersama dengannya. Anda tersenyum, tertawa, menangis, mewarnai, menempel, bercerita, ‘mengacak-acak’ atau beres-beres kamar, dan lain-lain.

Ketiga: Jika Anda sering meninggalkan anak untuk bekerja, jangan pernah ‘menebus kesalahan’ dengan menawarkan banyak hal (permainan, kue atau hadiah) kepada anak, lebih dari yang dia butuhkan. Sebab mungkin dia tidak memerlukannya. Hadiah berlebihan dan memenuhi segala permintaannya, tidak baik untuk masa depan anak.

Keempat: Sebelum tidur, tatap matanya, cium keningnya dan doakan kebaikan untuknya. Tidak mengapa, Anda memperdengarkan isi doa tersebut.

Kelima: Mulailah setiap pagi dengan kemesraan bersama anak Anda. Buat dia tersenyum atau tertawa saat bertemu dengannya. Ketika Anda berinteraksi dengan anak, pada saat lelah sekalipun, sungguh Anda akan merasakan kebahagiaan sejati.

Keenam: Bekerja sama dengan pasangan dalam menanamkan nilai-nilai positif kepada anak. Bisa melalui cerita atau yang lainnya. Saling bergantian antara ayah dan bunda.

Ketujuh: Sentuhan Anda bisa menjadi obat mujarab bagi anak. Jangan pelit menyentuh mereka. Tepukan ringan, usapan di kepala, rangkulan tiba-tiba, hingga pelukan erat, insyaAllah bisa menenangkan mereka. Ayah dan bunda bisa memberikan pelukan bersama sekaligus pada anak. Bahagia rasanya. Jangan hanya menunggu momen perdamaian setelah ada masalah. Sudah seharusnya pelukan dan sentuhan itu diberikan gratis.

Kedelapan: Ketika listrik mati, suasana redup dan syahdu yang dihasilkan cahaya lilin dapat membantu Anda menjangkau anak-anak yang kurang sentuhan. Adakalanya, kesibukan orangtua dan remaja menjauhkan satu sama lain secara fisik. Ajaklah semua anggota keluarga berkumpul di satu tempat. Peluk mereka, buat permainan yang mendorong kedekatan fisik. Gunakan cerita-cerita yang sedikit mencekam yang disesuaikan dengan usia anak terkecil. Misalnya tentang tema kematian, siksa neraka dan yang semisal. Tentunya bukan cerita horor yang fiktif.

Jika momen tidak terencana ini berhasil dan membuat anak-anak ketagihan, Anda bisa sengaja mengatur kegiatan dalam keremangan ini.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 2 Jumada Tsaniyah 1441 / 27 Januari 2020

Leave a Reply