Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 150 Perhatian Kepada Anak Sejak Di Rahim

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 150
Perhatian Kepada Anak Sejak Di Rahim

Islam adalah agama yang memberikan perhatian besar terhadap anak, bahkan sejak ia berada di dalam rahim ibunya. Bukan hanya perhatian terhadap jasmaninya, namun juga rohaninya. Hal itu dibuktikan dari perintah agama untuk memilih calon pasangan hidup yang baik. Agar kelak keturunan yang dilahirkan juga baik. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ وَانْكِحُوا الْأَكْفَاءَ وَأَنْكِحُوا إِلَيْهِمْ”
“Pilihlah (pasangan terbaik) untuk (menanamkan) sperma kalian. Menikahlah dengan orang-orang yang sepadan dan nikahkanlah (putrimu) dengan mereka”. HR. Ibn Majah dan sanadnya dinilai sahih oleh al-Hâkim.

Mendoakan calon bayi juga sangat dianjurkan, demi kebaikannya kelak. Peristiwa yang dialami sepasang suami istri di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berikut membuktikan hal itu. Yaitu kisah Abu Thalhah dan Ummu Sulaim radhiyallâhu ‘anhumâ.

Saat Abu Thalhah berada di luar rumah, anaknya yang sedang sakit keras di rumah menghembuskan nafas terakhir. Namun ketika Abu Thalhah pulang, istrinya; Ummu Sulaim tidak segera memberitahukan perihal kematian anaknya dan tidak memperlihatkan tanda-tanda kesedihan. Justru ia berdandan dan mempersiapkan makan malam untuk suaminya. Abu Thalhah pun dengan lahap menikmati hidangan dan setelahnya berhubungan badan dengan sang istri.

Setelah semua berlangsung, barulah Ummu Sulaim menyampaikan berita duka, dengan pendekatan spiritual yang cerdas. Abu Thalhah marah, lalu pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan kejadian tersebut. Beliau malah mendoakan,
“بَارَكَ اللهُ لَكُمَا فِي غَابِرِ لَيْلَتِكُمَا”

“Semoga Allah memberkahi malam kalian berdua yang telah lalu”.

Singkat cerita Ummu Sulaim hamil dan melahirkan seorang bayi yang diberi nama Abdullah oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Berkat doa Nabi, anak itu tumbuh dewasa lalu menikah dan dikaruniai sembilan anak yang semuanya hapal al-Qur’an! Kisah inspiratif ini termaktub dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.

Selain itu, Islam juga sangat memperhatikan asupan gizi bagi jabang bayi. Suami berkewajiban memberi nafkah kepada istrinya, terlebih bila ia sedang mengandung. Bahkan ketika sudah menjatuhkan talak tiga kepada istrinya—jika mantan istri sedang hamil—suami tetap berkewajiban memberikan nafkah. Hal itu guna menghidupi si bayi yang tidak lain adalah anaknya sendiri. Allah ta’ala berfirman,
“وَإِنْ كُنَّ أُولَاتِ حَمْلٍ فَأَنْفِقُوا عَلَيْهِنَّ حَتَّى يَضَعْنَ حَمْلَهُنَّ”

Artinya: “Jika mereka (istri-istri yang telah ditalak) itu sedang hamil, maka berikanlah nafkah kepada mereka, hingga mereka bersalin”. QS. Ath-Thalaq (65): 6.

Perhatian lain yang diberikan oleh Islam kepada bayi adalah menjaganya dari hal-hal yang dapat membahayakan kesehatannya. Karena itu, ibu yang sedang hamil, bila merasa khawatir dengan kesehatan janinnya, diperbolehkan untuk tidak berpuasa Ramadhan. Posisinya mirip dengan orang sakit dan musafir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
“إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَضَعَ عَنِ الْمُسَافِرِ شَطْرَ الصَّلَاةِ وَالصِّيَامَ، وَعَنِ الْحَامِلِ وَالْمُرْضِعِ”

“Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla menggugurkan kewajiban separoh shalat dan puasa dari musafir, dan juga dari wanita hamil dan menyusui”. HR. An-Nasa’iy dan dinilai sahih oleh al-Albaniy.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 21 Ramadhan 1442 / 3 Mei 2021