Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 151 Agar Bayi Terlahir Selamat

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 151
Agar Bayi Terlahir Selamat

Setiap orang tua tentu berharap buah hatinya terlahir dengan selamat tanpa kendala berarti. Begitu pula mengharapkan agar sang ibu kembali sehat wal afiat. Untuk menggapai tujuan mulia ini, selain melakukan ikhtiar medis, semisal mengonsumsi makanan bergizi dan rutin mengontrolkan kandungan kepada ahli kesehatan, harus pula diiringi dengan upaya syar’i.

Kami belum mengetahui adanya dzikir atau doa dari al-Qur’an atau Hadits yang khusus disyariatkan untuk dibaca saat bersalin. Namun banyak bacaan yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk diamalkan saat gelisah dan kondisi khawatir. Suasana genting saat bersalin termasuk momen yang bisa dibacakan di dalamnya dzikir dan doa tadi.

Momen melahirkan merupakan kondisi yang menggelisahkan dan mengkhawatirkan. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallam telah memberi petunjuk kepada Asma’ binti Umais radhiyallahu ‘anha dalam sabdanya, “Maukah engkau kuajari beberapa kata yang bisa kau ucapkan saat dalam kekhawatiran? Bacalah:
“اللَّهُ اللَّهُ رَبِّى، لاَ أُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا”
“Allah, Allah Rabbku. Aku tidak menyekutukan-Nya dengan suatu apapun”. HR. Abu Dawud dan dinyatakan sahih oleh al-Albaniy.

Saat persalinan adalah kondisi yang paling berat bagi ibu dan bayi. Karena ketika itu biasanya mereka mengalami kesusahan yang luar biasa. Berjuang antara hidup dan mati. Ada sebuah doa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk dibaca dalam kondisi kesusahan dan kegentingan. Yaitu:
“اللَّهُمَّ رَحْمَتَكَ أَرْجُو، فَلاَ تَكِلْنِى إِلَى نَفْسِى طَرْفَةَ عَيْنٍ، وَأَصْلِحْ لِى شَأْنِى كُلَّهُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ”

“Ya Allah, hanya rahmat-Mu yang kuharapkan. Jangan engkau jadikan aku memiliki ketergantungan pada diriku, walaupun hanya sekejap mata. Perbaikilah seluruh urusanku. Tidak ada yang berhak disembah melainkan hanya Engkau”. HR. Abu Dawud dan dinilai sahih oleh Ibn Hibban.

Ada juga doa lain yang jika dibaca oleh siapapun yang sedang ditimpa kesulitan dan kesedihan, pasti Allah akan melenyapkan hal-hal itu, lalu menggantikannya dengan kegembiraan. Doa tersebut adalah:
“اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ، ابْنُ عَبْدِكَ، ابْنُ أَمَتِكَ، نَاصِيَتِي بِيَدِكَ، مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ، عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ، أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ نَفْسَكَ، أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ، أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ، أَوِ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ؛ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ رَبِيعَ قَلْبِي، وَنُورَ صَدْرِي، وَجِلاَءَ حُزْنِي، وَذَهَابَ هَمِّي”

“Ya Allah, sungguh aku adalah hamba-Mu, anak hamba-Mu yang pria dan anak hamba-Mu yang wanita. Ubun-ubunku berada di tangan-Mu. Putusan-Mu pada diriku pasti terjadi. Ketentuan-Mu untuk diriku tentulah adil. Dengan segala nama milik-Mu yang Engkau sebutkan sendiri, atau nama yang Engkau ajarkan pada makhluk-Mu, atau nama yang engkau turunkan di dalam Kitab-Mu, atau nama yang masih engkau rahasiakan di alam ghaib; aku memohon agar Engkau menjadikan al-Qur’an sebagai penenang hatiku, penerang dadaku, pemusnah kesedihanku dan pengusir kegelisahanku”. HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Hakim juga Ibn Hibban.

Memperhatikan berbagai doa di atas, bisa disimpulkan bahwa dalam kondisi genting, seharusnya seorang hamba berserah diri kepada Allah. Mengakui kelemahan dirinya dan menyatakan ketergantungannya hanya kepada Yang Maha Kuasa saja. Selalu berharap belas kasihan dan rahmat Allah Yang Maha Pengasih. Serta melepas ketergantungan kepada siapapun dan apapun selain-Nya. Walau tetap melakukan ikhtiar manusiawi.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Syawal 1442 / 7 Juni 2021