Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 153 Mengapa Mengadzani Bayi?

Serial Fiqih Pendidikan Anak – No: 153
Mengapa Mengadzani Bayi?

Salah satu amalan yang dianjurkan saat bayi lahir adalah mengadzaninya. Hal ini dilandaskan pada hadits Abu Râfi’ radhiyallahu ‘anhu berikut. Beliau bertutur,
“رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ بِالصَّلَاةِ”
“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumandangkan adzan—sebagaimana panggilan shalat—di telinga al-Hasan bin Ali saat dilahirkan Fatimah”. HR. Tirmidziy dan beliau menyatakan hadits ini hasan sahih.

Sunah ini dilakukan dalam rangka menguatkan fitrah kesucian bayi, mengenalkan syiar Islam pada anak sejak dini, sebelum kedahuluan bisikan-bisikan setan dan suara musik yang melalaikan.

Kandungan lafaz adzan sangat dahsyat. Diawali dengan takbir, kita diingatkan tentang kebesaran Allah ta’ala. Lalu dengan dua kalimat syahadat, kita diingatkan bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah dan panutan kita adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kemudian diteruskan dengan undangan shalat dan ajakan menjemput kemenangan serta keselamatan di dunia maupun akhirat.

Walaupun saat terlahir bayi tidak mengetahui apa-apa, namun ia dibekali Allah dengan perangkat lengkap untuk menyerap ilmu. Sebagaimana dijelaskan dalam firman-Nya,
“وَاللَّهُ أَخْرَجَكُمْ مِنْ بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ لا تَعْلَمُونَ شَيْئًا وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالأبْصَارَ وَالأفْئِدَةَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ”

Artinya: “Allah mengeluarkanmu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dia memberimu pendengaran, penglihatan dan hati; agar engkau bersyukur”. QS. An-Nahl (16): 78.

Kedokteran modern membuktikan bahwa bayi ketika di perut ibunya, ia sudah bisa mendengar, apalagi saat telah dilahirkan. Bahkan berbagai penelitian menemukan bahwa bayi lebih lahap untuk meminum ASI, saat ia mendengar suara yang disukainya yang biasa didengarnya saat ia masih di perut ibunya.

Sebaliknya ia tak tertarik menyusu bahkan cenderung berontak, ketika mendengar suara yang tidak disukainya. Fakta ini semakin menguatkan betapa pentingnya memperdengarkan adzan saat bayi baru lahir. Agar ia familiar dan suka dengan syiar Islam ini. Harapannya hingga akhir hidupnya ia tetap konsisten menjaga shalat. Sehingga itu menjadi benteng kokoh dari bisikan dan godaan setan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menerangkan,

“كُلُّ بَنِي آدَمَ يَطْعُنُ الشَّيْطَانُ فِي جَنْبَيْهِ بِإِصْبَعِهِ حِينَ يُولَدُ، غَيْرَ عِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ”
“Setiap anak Adam saat dilahirkan akan ditusuk perutnya oleh setan dengan jarinya, kecuali Isa bin Maryam”. HR. Bukhari dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu.

Dalam riwayat lain disebutkan,
“فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ نَخْسَةِ الشَّيْطَانِ”

“Sehingga bayi itu menangis akibat tusukan setan”. HR. Bukhari dan Muslim.

Hadits ini menunjukkan betapa keras permusuhan setan kepada manusia, bahkan sejak ia terlahir ke muka bumi. Kita telah mengetahui bahwa setan akan lari terbirit-birit manakala mendengar suara adzan. Sunnah mengadzani bayi saat lahir menunjukkan betapa tinggi kepedulian Islam terhadap bayi dalam melindunginya dari godaan setan sejak dini. Adzan tersebut diharapkan menjadi pukulan balasan terhadap setan yang telah mengumumkan permusuhannya kepada bani Adam.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 11 Rabi’ul Awal 1443 / 18 Oktober 2021