Serial Fiqih Pendidikan Anak No: 172 Hadiah Untuk Anak

Jangankan anak kecil, orang dewasa pun merasa senang bila diberi hadiah. Karena memang tabiat manusia bakal menyukai orang yang berbuat baik padanya. Seharusnya orang tua pandai memanfaatkan fitrah yang ditanamkan Allah dalam jiwa manusia ini. Yakni dengan rajin memberikan hadiah pada anak. Sehingga anak semakin sayang kepada ayah dan ibunya. Manakala kedekatan hubungan ini terbangun, insyaAllah anak akan lebih mudah untuk menerima arahan dan nasehat orang tuanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sangat memahami karakter dasar ini. Sehingga beliau kerap berbagi hadiah. Bukan hanya kepada anak-anak kecil, bahkan kepada orang dewasa. Beliau menjadikan hadiah tersebut sebagai sarana dakwah dan pendekatan.

Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu menuturkan, “Saat pohon pertama kali berbuah, masyarakat biasanya membawa buah tersebut kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliaupun menerimanya lantas berdoa,
«اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي ثَمَرِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مَدِينَتِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِنَا، وَبَارِكْ لَنَا فِي مُدِّنَا. اللهُمَّ إِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَبْدُكَ وَخَلِيلُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنِّي عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ، وَإِنَّهُ دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَإِنِّي أَدْعُوكَ لِلْمَدِينَةِ بِمِثْلِ مَا دَعَاكَ لِمَكَّةَ، وَمِثْلِهِ مَعَهُ»
“Ya Allah berkahilah buah kami, berkahilah kota kami, berkahilah ukuran timbangan kami. Ya Allah, sungguh Ibrahim adalah hamba-Mu, kekasih-Mu dan nabi-Mu. Sungguh akupun juga hamba-Mu dan nabi-Mu. Ibrahim telah berdoa kepada-Mu untuk kebaikan Mekah. Maka akupun berdoa kepada-Mu untuk kebaikan Madinah seperti doa Ibrahim dan lipat gandakanlah kebaikannya”.

Lalu beliau memanggil anak terkecil yang hadir di situ, dan menghadiahkan buah tersebut kepadanya”. HR. Muslim (no. 1373).

Ada beberapa kemungkinan alasan dipilihnya anak kecil untuk dihadiahi buah pertama itu. Bisa jadi karena anak kecil biasanya tidak sabaran dan paling kepenginan, sehingga diberikanlah buah itu untuknya supaya merasa senang. Atau kemungkinan lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermaksud membangun optimisme dalam jiwa masyarakat. Bahwa pohon-pohon tersebut akan berkembang, seperti tumbuh kembangnya anak-anak kecil. Begitu keterangan al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah (w. 544 H)1.

Hadits di atas menarik sekali untuk dikupas dan dikaji. Barangkali menurut sebagian kita, memberikan sebutir buah kepada anak kecil terlihat remeh. Sebab pohon buah-buahan banyak di sekeliling kita. Namun apa yang sepele di mata kita, belum tentu sepele di mata anak. Apalagi jika kita memberikannya dengan ketulusan dan kasih sayang. Jadi, hadiah itu tidak harus dalam bentuk barang mewah dan mahal. Apalagi jika memang ekonomi pas-pasan. Yang terpenting adalah ekspresi kasih sayangnya, bukan nominalnya.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kerap menjadikan hadiah sebagai sarana dakwah. Orang-orang non muslim digelontori hadiah agar mereka mau masuk Islam. Kita pun berhak meneladani pola tersebut dalam mendidik putra putri kita.

Kesadaran tentang pentingnya menghapal al-Qur’an—misalnya—tidak serta merta muncul dalam hati. Namun butuh proses dalam menumbuhkannya. Selain rutin menyampaikan dalil-dalil terkait hal itu pada anak, tidak masalah menggunakan pola pendekatan dengan hadiah. Anak dijanjikan hadiah sesuatu yang disukainya, bila ia selesai menghapal satu surat al-Qur’an. Besoknya begitu lagi, dilakukan hal serupa. Tentunya perlu dicarikan titik temu antara keinginan anak dengan kemampuan finansial orang tua.

Terakhir, hadiah tidak selalu berupa materi. Hal-hal non materi pun bisa dijadikan hadiah. Seperti: apresiasi berupa pujian, kecupan kasih sayang, pelukan hangat, secarik kertas berisikan ungkapan penghargaan, dan yang semisal dengan itu. Akan lebih baik lagi, bila orang tua menggabungkan antara hadiah yang bersifat materi dan non materi.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 28 Rabi’ul Awwal 1444 / 24 Oktober 2022