Serial Fiqih Pendidikan Anak No 43: MENGAPA ANAK BERBOHONG? Bagian 3 (terakhir)*

Pada pertemuan lalu kita sudah memulai pembahasan tentang faktor-faktor penyebab anak berbohong. Berikut kelanjutannya:

  1. Untuk mendapat pengakuan orang

Adakalanya anak mendapat perhatian besar ketika menceritakan masalah-masalah yang imajinatif, fiktif dan aneh. Maka perhatian yang mereka dapatkan tersebut menjadi penyemangat untuk terus melakukannya demi mendapat pengakuan orang lain. Kebohongan ini juga terjadi manakala ada diskriminasi sikap dan perlakuan yang berat sebelah di antara anak-anak. Sehingga sebagian anak mengaku berhasil menyelesaikan satu tugas demi mendapatkan posisi yang telah dicapai oleh saudar-saudaranya dengan prestasi mereka.

Cara mengatasi hal ini adalah dengan berlaku adil terhadap anak-anak, memberi pujian dan menyayangi mereka. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bersabda,

فَاتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوا بَيْنَ أَوْلَادِكُمْ

“Takutlah kalian kepada Allah. Berlaku adillah terhadap anak-anak kalian!”. HR. Bukhari dari an-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhu.

Beri mereka kesempatan meraih kesuksesan dan berprestasi dalam pekerjaan. Sehingga tidak seorangpun dari mereka yang sengaja berbohong untuk menunjukkan kemampuan dirinya. Bahkan, sudah sewajarnya bila setiap anak memiliki tempat di hati ayah dan ibunya.

  1. Untuk meraih keinginan

Anak-anak senang mendapat mainan, permen, uang dan barang-barang lainnya. Kadang, pemberian barang-barang ini dikaitkan dengan prestasi moral, sosial, studi, ibadah dan perbuatan-perbuatan lainnya. Namun, tidak jarang tuntutan tersebut melebihi kemampuan anak dalam menunaikan atau menyelesaikan sesuai waktu yang telah ditentukan. Maka ayah atau ibu tidak memberikan barang yang ia harapkan. Sehingga anak yang tidak mendapatkannya merasa cemburu dan akhirnya berbohong demi mendapatkan sesuatu yang diperoleh saudaranya. Terlebih lagi, jika ketidakberuntungan ini terjadi berulangkali, sedang orang tua tak melakukan sesuatu untuk menolong anak yang malang ini.

Di sini penanggulangannya sangat jelas, yakni keharusan memberi motivasi pada anak. Masing-masing sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya, dengan tetap memperhatikan perbedaan-perbedaan personal dan individual di antara mereka. Tidak mengapa sedikit mengurangi tuntutan bila orang tua mendeteksi kemungkinan anak akan berbohong untuk bisa menyamai saudaranya.

  1. Untuk membela diri

Kebohongan seperti ini terjadi ketika anak merasakan kezaliman yang sangat trasparan, sementara tak ada jalan damai untuk memperoleh hak-hak mereka. Maka sebagian mereka terpaksa bohong demi mengambil haknya yang hilang. Di samping haram, kebohongan seperti ini juga tidak akan terjadi kecuali bila ayah atau ibu berbuat sewenang-wenang, tidak memberikan hak-hak anak, atau merampas hak mereka.

Anak-anak, terutama ketika menginjak usia remaja, mengetahui cara ini saat salah seorang dari mereka tidak mendapat alasan yang tepat untuk berdialog sementara ia tidak mungkin berteriak dan menangis seperti yang dulu biasa ia lakukan saat masih kecil, lantaran malu. Akibatnya, ia berbohong. Apalagi bila ia pernah mencobanya dan ternyata berhasil.

Pemecahan masalah ini adalah dengan berbuat adil dan menjauhi kezaliman. Dan saat menunda pemberian hak anak karena tidak mampu memberikannya, sertailah dengan permintaan maaf sehingga anak tenang dan sabar.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 15 Shafar 1436 / 8 Desember 2014

Leave a Comment