Serial Fiqih Pendidikan Anak No 45: ANAK DAN SIFAT AMANAH Bagian 2*

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dikenal sebagi orang yang paling terpercaya dalam menjalankan amanah. Sejak kecil beliau dikenal oleh penduduk Makkah sebagai al-amin (orang yang jujur, dapat dipercaya). Kejujuran dan amanah menjadi salah satu kunci sukses Nabi shallallahu’alaihiwasallam sebagai ‘direktur pemasaran’ dalam bisnis Khadijah, figur di tengah masyarakat, sukses sebagai pedagang, suami saudagar kaya Khadijah, pemimpin umat dan utusan Allah ta’ala.

Muslim yang amanah memiliki etos kerja yang baik, yaitu segala aktivitas dalam rangka mendapat ridha Allah. Dia tidak akan berbuat curang, korup dan tindakan tercela yang merusak kualitas imannya. Hidupnya didedikasikan untuk memperjuangkan amanah Allah ta’ala.

Tanamkan amanah sejak dini

  1. Kenalkan anak dengan hak dan kewajibannya, sehingga dia bisa membedakan mana haknya atau bukan haknya, serta kewajibannya. Didik anak agar menjaga hak orang dan tidak punya keinginan untuk memiliki barang orang lain, sekalipun ada di tengah jalan, dan ajak mereka untuk mencari pemiliknya.
  2. Latihlah anak untuk berpuasa.Puasa menuntut sikap amanah dalam segala hal. Menuntaskan puasa sampai tenggelam matahari, menghindari bohong, amarah, serta perilaku yang merugikan orang lain. Menunaikan semua hak orang lain yang ada di dalam dirinya, seperti membayar zakat. Biasakan anak untuk menjaga amanah serta jauhkan anak dari khianat dan dampak buruknya.
  3. Tumbuhkan sikap jujur pada anak, baik ucapan atau perbuatan.Orang tua memberi contohuntuk tidak berdusta kepada anak meskipun saat bercanda. Jika menjanjikan sesuatu pada anak, orang tua harus memenuhinya”. Sifat jujur membuat anak selalu berbuat ikhlas, tidak suka cari muka, jauh dari niat buruk dan berkata benar, sehingga bisa menegakkan amanah. Hadits Nabi shallallahu’alaihiwasallam, “Selalulah kamu jujur; karena sesungguhnya jujur itu mengantarkan kamu pada kebaikan dan sungguh kebaikan itu mengantarkan pada surga. Jauhilah dusta! Sebab dusta akan mengantarkan pada keburukan dan dosa, dan sesungguhnya dosa itu akan mengantarkan pada neraka”. HR. Bukhari dan Muslim.
  4. Pilihkan teman pergaulan yang baik dan jauhkan anak dari teman yang buruk.Seringkali kerusakan pada anak terjadi karena kawannya.
  5. Jauhkan anak dari benih-benih penyimpangan sejak dini.Anak yang tumbuh dengan pola hidup tertentu, maka ia akan terbiasa dengan itu di masa tuanya. Didik anak dengan ajaran Islam dan ajarkan anak hal-hal yang dibutuhkannya dalam urusan agama dan dunianya. Kembangkan kepribadian anak dengan akhlak yang mulia dan adab yang baik.
  6. Doakanagar anak bisa memiliki sikap amanah. Sebab doa orang tua bagi anaknya amat mustajab dengan izin Allah.
  7. Tempa jiwa anak menjadi kuat, sabar dan tabah dalam menghadapi cobaan dan perjuanganmengarungi kehidupan. Segala sarana dan metode yang membentuk pribadi anak menjadi cengeng, lemah, mudah marah, mudah patah semangat dan putus asa harus dihilangkan. Misalnya, lagu cengeng dan film picisan.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam mengajarkan Ibnu Abbas (di bawah sepuluh tahun),

“Ketahuilah. bahwa seandainya seluruh manusia bersatu ingin memberikan sesuatu kepadamu, dan Allah tidak menghendakinya, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Dan seandainya mereka bersatu ingin menghindarkanmu dari sesuatu yang Allah kehendaki, niscaya mereka tak akan mampu melakukannya. Jika engkau meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, bahwa pertolongan (Allah) datang melalui kesabaran, bersama ujian ada jalan keluar, dan bersama kesulitan ada kemudahan”. HR. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh al-Albany.

 

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 14 Rabi’ul Awwal 1436 / 5 Januari 2015

Leave a Comment