Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 148: WASPADAI DOA KEBURUKAN!

Serial Fiqih Doa dan Dzikir No: 148

WASPADAI DOA KEBURUKAN!

Ada banyak hal penting yang harus diperhatikan sebelum berdoa. Di antaranya menyadari dan memahami isi permintaan atau doa yang dipanjatkan kepada Allah ta’ala. Tidak boleh tergesa-gesa mengucapkan suatu permintaan, kecuali setelah betul-betul memastikan kebaikannya.

Banyak orang ketika marah terpancing untuk berdoa meminta hal-hal yang buruk. Pemicunya adalah keterburu-buruan dan kurang mempertimbangkan masak-masak akibat negatif yang bakal ditimbulkan. Allah ta’ala berfirman,

وَيَدْعُ الْإِنْسَانُ بِالشَّرِّ دُعَاءَهُ بِالْخَيْرِ وَكَانَ الْإِنْسَانُ عَجُولًا

Artinya: “(Seringkali) manusia mendoakan keburukan sebagaimana (biasanya) dia mendoakan kebaikan. Memang manusia bersifat tergesa-gesa”. QS. Al-Isra’ (17): 11.

Keburukan yang paling buruk adalah doa minta diazab Allah. Seperti yang dipraktekkan oleh orang-orang kafir yang keras kepala. Mereka berdoa,

اللَّهُمَّ إِنْ كَانَ هَذَا هُوَ الْحَقَّ مِنْ عِنْدِكَ فَأَمْطِرْ عَلَيْنَا حِجَارَةً مِنَ السَّمَاءِ أَوِ ائْتِنَا بِعَذَابٍ أَلِيمٍ

Artinya: “Ya Allah, jika (al-Qur’an) ini benar (wahyu) dari Engkau, maka hujanilah kami dengan batu dari langit, atau datangkanlah kepada kami azab yang pedih”. QS. Al-Anfal (8): 32.

Namun, karena belas kasihan-Nya, Allah tidak segera mengabulkan doa keburukan, sebagaimana kesegeraan-Nya dalam mengabulkan doa kebaikan. Sebab bila itu dilakukan-Nya pasti mereka akan lekas binasa.

وَلَوْ يُعَجِّلُ اللَّهُ لِلنَّاسِ الشَّرَّ اسْتِعْجَالَهُمْ بِالْخَيْرِ لَقُضِيَ إِلَيْهِمْ أَجَلُهُمْ فَنَذَرُ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ

Artinya: “Jika Allah menyegerakan keburukan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, pasti lekas binasa. Kami biarkan orang-orang yang tidak percaya akhirat itu bingung dalam kesesatan mereka”. QS. Yunus (10): 11.

Tetapi walaupun demikian, wajib bagi setiap muslim untuk berhati-hati dalam berdoa. Sekalipun dalam kondisi emosi berat. Tetap tidak boleh mendoakan keburukan. Sebab bisa saja bertepatan dengan waktu yang mustajab, lalu dikabulkan Allah. Setelah itu yang ada hanyalah penyesalan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewanti-wanti,

لا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَوْلاَدِكُمْ، وَلا تَدْعُوا عَلَى أَمْوَالِكُمْ؛ لا تُوَافِقُوا مِنَ الله سَاعَةً يُسْأَلُ فيهَا عَطَاءٌ فَيَسْتَجِيبُ لَكُمْ

Janganlah berdoa keburukan untuk diri kalian sendiri. Janganlah berdoa keburukan untuk anak-anak kalian. Janganlah berdoa keburukan untuk harta kalian. Bisa jadi doa kalian itu bertepatan dengan waktu mustajab, sehingga dikabulkan Allah ta’ala”. HR. Muslim dari Jabir radhiyallahu ‘anhu.

Maka biasakanlah diri untuk mendoakan kebaikan buat diri sendiri, keluarga, harta dan segala sesuatu. Berlatihlah untuk mengontrol diri saat emosi. Jangan sampai terpancing untuk mendoakan keburukan. Jika ternyata dikabulkan Allah, apa keuntungannya?

Pahamilah, bahwa doa itu dipanjatkan hamba dalam rangka supaya meraih kebaikan atau terhindar dari keburukan.

✍️ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 29 Jumadal Ula 1440 / 4 Februari 2019

Diringkas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari dari buku “Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr” karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (II/255-259) dengan tambahan.

Leave a Comment