Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 44: Batu pun Bertasbih

Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No: 44

 BATU PUN BERTASBIH

 

Dikarenakan keagungan Allah dan kemuliaan-Nya, maka seluruh makhluk pun bertasbih kepada-Nya. Langit, bumi, gunung, pohon, matahari, bulan, hewan, burung dan segala sesuatu, semuanya bertasbih mensucikan Allah ta’ala. Di dalam al-Qur’an ditegaskan,

“تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ، إِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا”.

Artinya: Tujuh lapis langit dan bumi serta apa yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Tidak ada sesuatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya. Namun kalian tidak memahami tasbih mereka. Sesungguh-Nya Dia Maha Penyantun lagi Pengampun”. QS. Al-Isra’ (17): 44.

Ayat di atas dan masih banyak ayat lainnya, menjelaskan pada kita bahwa seluruh makhluk bertasbih, entah itu makhluk hidup maupun benda mati. Dan mereka bertasbih secara nyata, bukan ilusi belaka.

Dalam kitabnya Tahdzîb al-Lughah, Imam al-Azhary (w. 370 H) menjelaskan bahwa seluruh makhluk Allah bersujud kepada-Nya dengan nyata, sebagaimana mereka bertasbih kepada Allah ta’ala juga dengan nyata. Kita para manusia tidaklah dibebani oleh Allah untuk mengetahui tata cara para makhluk itu dalam bertasbih dan bersujud kepada-Nya.

Allah ta’ala menjelaskan,

“أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَسْجُدُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُومُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ”.

Artinya: “Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pepohonan, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia”. QS. Al-Hajj (22): 18.

Bertasbihnya para makhluk tersebut di atas bukanlah suatu perkara yang aneh. Di zaman Nabi shallallahu’alaihiwasallam saja para sahabat biasa mendengar makanan bertasbih.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu menuturkan,

“لَقَدْ رَأَيْتُ الْمَاءَ يَنْبُعُ مِنْ بَيْنِ أَصَابِعِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَلَقَدْ كُنَّا نَسْمَعُ تَسْبِيحَ الطَّعَامِ وَهُوَ يُؤْكَلُ”

“Sungguh aku telah melihat air memancar dari antara jari-jari Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam. Dan sungguh kami juga mendengar makanan bertasbih saat dimakan”. HR. Bukhari.

Insan yang beriman akan percaya dengan apa yang disebutkan dalam al-Qur’an dan Sunnah tanpa merasa ragu. Selain itu juga akan mengambil pelajaran, bahwa jika bebatuan yang tak bernyawa dan tak berakal saja bersujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, bagaimana halnya dengan para manusia? Mereka telah dikaruniai akal, dianugerahi hati, dimuliakan dengan iman, andaikan tidak juga sujud, bertasbih dan merasa takut kepada Allah, alangkah kerasnya hati mereka?? Na’udzubillah min dzalik…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 12 Shafar 1435 / 16 Desember 2013

 


*   Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/213-218).

Leave a Reply