Silsilah Fiqih Doa dan Dzikir No 45: Makna Kalimat Tasbih

Dzikir akan semakin berbobot manakala orang yang mengamalkannya memahami kandungan makna dzikir tersebut dan menghayatinya. Maka setiap muslim seyogyanya mengalokasikan banyak waktunya untuk berusaha memahami makna kalimat-kalimat dzikir.

Setelah kita mempelajari berbagai keistimewaan kalimat tasbih, tiba saatnya untuk mempelajari makna kalimat mulia ini.

Kalimat tasbih bermakna: menjauhkan kekurangan-kekurangan dari dzat Allah, serta mensucikan-Nya dari sifat-sifat buruk dan yang tidak layak. Konsekwensinya, kita harus menisbatkan segala sifat kesempurnaan kepada Allah ta’ala.

Berbagai kekurangan yang harus kita jauhkan dari Allah, contohnya: mengantuk, tidur dan kematian. Karena itu di dalam Ayat Kursi disebutkan,

“اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ، لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ”.

Artinya: “Allah, tidak ada yang berhak disembah selain Dia. Yang Mahahidup, Yang terus menerus mengurus (makhluk-Nya). Tidak mengantuk dan tidak tidur”. QS. Al-Baqarah (2): 255.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga bersabda,

“اللَّهُمَّ أَنْتَ الأَوَّلُ فَلَيْسَ قَبْلَكَ شَىْءٌ، وَأَنْتَ الآخِرُ فَلَيْسَ بَعْدَكَ شَىْءٌ”.

“Ya Allah, Engkaulah Yang Mahapertama tidak ada sesuatupun sebelum-Mu. Dan Engkau Maha akhir, sehingga tidak ada sesuatupun sesudah-Mu”. HR. Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Di antara contoh kekurangan adalah butuh kepada yang lain. Allah ta’ala menerangkan,

“يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ، وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ”.

Artinya: “Wahai para manusia, kalianlah yang memerlukan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dan Maha Terpuji”. QS. Fâthir (35): 15.

Adapun sifat buruk dan yang tak layak contohnya adalah: sifat pelit dan perilaku zalim. Berkenaan dengan sifat pelit, Allah ta’ala menjelaskan,

“وَقَالَتِ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ، غُلَّتْ أَيْدِيهِمْ وَلُعِنُوا بِمَا قَالُوا، بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ يُنْفِقُ كَيْفَ يَشَاءُ”.

Artinya: “Orang-orang Yahudi berkata, “Tangan Allah terbelenggu (kikir)”. Sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan mereka dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. Padahal kedua tangan Allah terbuka, Dia memberi rezeki sebagaimana Dia kehendaki”. QS. Al-Ma’idah (5): 64.

Mengenai perilaku zalim, Allah ta’ala berfirman,

“وَمَا رَبُّكَ بِظَلامٍ لِلْعَبِيدِ”.

Artinya: “Rabbmu sama sekali tidak menzalimi hamba-hamba-Nya”. QS. Fusshilat (41): 46.

Mari kita senantiasa berusaha mensucikan Allah dengan sebenar-benarnya!

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 26 Shafar 1435 / 30 Desember 2013

 

 


*   Diringkas dan diterjemahkan dengan bebas oleh Abdullah Zaen, Lc., MA dari kitab Fiqh al-Ad’iyyah wa al-Adzkâr karya Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq al-Badr (I/219-224) dengan banyak tambahan.

Leave a Reply