Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61 (BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 61

BERMAIN DAN BERCANDA DENGAN ANAK*

Cara ini sangat jitu untuk menumbuhkan keakraban dan kedekatan anak dengan orang tua. Demikian juga akan membawa perasaan hangat dalam hatinya. Inilah salah satu wujud kasih sayang yang akan melancarkan komunikasi dan mempererat hubungan batin. Dahulu Rasulullah shallallahu ‘alaihiwasallam biasa bercanda dan tertawa bersama anak-anak, bermain-main, kadang berlari, menggendong dan meniru-niru perilaku anak. Demikianlah yang beliau lakukan dalam berinteraksi dengan mereka. Beliau menanamkan perasaan tulus ke dalam jiwa anak-anak, jauh dari sifat keras, kasar, arogan dan pengabaian hak-hak mereka. Itulah yang selayaknya kita tiru.

Ya’la bin Murrah radhiyallahu’anhu menceritakan,

[arabic-font]خَرجنَا مَع النَّبِي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ودُعِينَا إِلَى طَعامٍ فَإِذا حُسينٌ يَلعبُ فِي الطَّريق، فَأسرعَ النبيُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمامَ القَومِ ثُم بَسطَ يَديهِ فَجَعلَ الغُلامُ يَفِر هَهُنا وهَهُنا ويُضَاحِكُه النَبيُ صلى الله عليه وسلم حَتى أَخذهُ فَجعلَ إِحدى يَديهِ فِي ذَقْنِهِ والأُخرَى فِي رَأسهِ ثُم أعتَنَقَه ثُم قَال النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: (حُسينٌ مِني وَأنَا مِنهُ أَحبَّ اللهُ مَن أَحبَّ الحَسنَ والحُسينَ سبطان مِن الأسباط)[/arabic-font]

“Suatu hari kami pernah keluar bersama Nabi shallallahu‘alaihiwasallam. Di tengah jalan kami diundang menghadiri jamuan makan. Ternyata Husain radhiyallahu ‘anhu sedang bermain di jalan. Maka Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergegas mendahului kami lalu membentangkan kedua tangannya. Anak kecil tersebut berlari ke sana ke mari. Nabi shallallahu’alaihiwasallam mencandai mereka dan membuatnya tertawa. Hingga beliau berhasil memegangnya. Beliau meletakkan tangan pada dagunya dan tangan satunya di kepalanya. Kemudian beliau merangkul Husain seraya berkata, “Husain berasal dariku dan aku berasal darinya. Allah akan mencintai siapa saja yang mencintai Hasan dan Husain. Keduanya adalah cucuku”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 364) dan dinilai hasan oleh al-Albany.

Tidak jarang Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam juga menggendong cucu beliau. Al-Bara’ radhiyallahu’anhu bertutur,

[arabic-font]رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْحَسَنُ – صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِ – عَلَى عَاتِقِهِ وَهُوَ يَقُولُ: (اللهم إني أُحِبُه فَأَحِبَّه) .[/arabic-font]

“Aku pernah melihat Nabi shallallahu’alaihiwasallam membopong al-Hasan di atas pundaknya sembari berkata, “Ya Allah, sungguh aku mencintainya, maka cintailah ia”. HR. Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad (no. 86) dan dinyatakan sahih oleh al-Albany.

Jadi, bercanda dengan anak adalah sesuatu yang dianjurkan dalam agama Islam, sebab hal itu merupakan sunnah Rasul shallallahu’alaihiwasallam yang tentu saja berpahala. Bukan sekedar hiburan yang bersifat diperbolehkan belaka. Namun perlu juga diperhatikan etika-etikanya. Jangan sampai melanggar norma-norma agama.

Bercanda yuk dengan anak-anak kita…

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 6 Muharram 1437 / 19 Oktober 2015

* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 137-138).

Leave a Reply