Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63 (HINDARI MENCELA ANAK)

Silsilah Fiqih Pendidikan Anak – No: 63

HINDARI MENCELA ANAK*

Dalam ungkapan bijak disebutkan, sesungguhnya banyak melakukan celaan terhadap anak akan mengakibatkan penyesalan. Teguran dan celaan yang berlebihan akan berakibat anak makin berani melakukan tindakan keburukan dan hal-hal tercela.

Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam adalah orang yang paling menghindari hal tersebut. Beliau tidak banyak melakukan teguran terhadap anak dan tidak mencela sikap apa pun yang dilakukan oleh anak.

Semua sentuhan pendidikan yang begitu tinggi dari Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam pernah dialami Anas radhiyallahu’anhu yang dengan setia melayani Rasulullah. Sebagaimana diungkapkan melalui hadits berikut:

“Aku telah melayani Rasulullah shalallahu ‘alahi wasallam selama 10 tahun. Demi Allah, beliau tidak pernah mengeluarkan kata-kata hardikan kepadaku, tidak pernah menanyakan, `Mengapa engkau lakukan?’ Dan pula tidak pernah mengatakan, ‘Mengapa tidak engkau lakukan?’”. HR. Bukhari dan Muslim.

Dalam riwayat lain disebutkan:

“Tidaklah sekali-kali beliau memerintahkan sesuatu kepadaku, kemudian aku menangguhkan pelaksanaannya atau menyia-nyiakannya, lalu beliau mencelaku. Jika ada salah seorang dari keluarganya mencelaku, justru beliau membelaku, ‘Biarkanlah dia, seandainya hal itu ditakdirkan terjadi, pastilah akan terjadi.’” HR. Ahmad dan dinilai sahih oleh al-Arna’uth.

Sehubungan dengan hal ini, barangkali seseorang akan mengatakan, “Seandainya kita bersikap lemah-lembut dan banyak toleran, tentulah anak akan bertambah berani melakukan pelanggaran dan kita tidak bisa mengarahkan atau membimbingnya lagi.” Jawabannya, “Apakah anak-anak hasil didikan Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berbuat kurang ajar? Atau justru mereka menjadi orang-orang hebat?”.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam bergaul dengan berbagai tipe pemuda dengan beragam latar belakang dan watak. Namun mereka semua keluar dari sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa hidayah. Mereka menjadi saksi bahwa beliau adlah guru yang paling lembut dan paling baik. Semua beliau perlakukan dengan lembut dan hikmah, sehingga hasilnya selalu positif. Sebenarnya perbedaan mendasarnya adalah kita suka tergesa-gesa, kurang telaten dan tidak sabar melihat hasil. Maka bersabarlah terhadap mereka dan perbaikilah cara interaksi kita dengan mereka.

Tegur dan jelaskan alasan

Bukan berarti keterangan di atas, kita lalu membiarkan anak kita tanpa arahan dan mendiamkan kesalahan. Justru yang benar kita tetap mengingatkan namun dengan cara yang lembut, tanpa mencela dan mencaci. Terus juga mengutamakan kata-kata yang bersifat informatif, dibanding kata-kata yang bersifat instruktif. Sehingga anak bisa memahami alasan mengapa ia disuruh mengerjakan anu dan mengapa ia tidak boleh melakukan anu. Lalu ia menjalankannya dengan hati yang lapang, bukan karena dorongan rasa takut dan keterpaksaan.

Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam telah memberikan contoh yang baik kepada kita. Abu Hurairah radhiyallahu’anhu berkata, “Al-Hasan bin Ali radhiyallahu’anhu pernah mengambil sebiji kurma dari harta zakat lalu memasukkannya ke dalam mulutnya. Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam berkata, “Tinggalkan!”. Yakni keluarkanlah dari mulutmu. Kemudian beliau bersabda, “Tidakkah kamu tahu bahwa kita tidak boleh memakan harta zakat?”. HR. Bukhari dan Muslim.

Padahal saat itu al-Hasan masih kecil, akan tetapi hal itu tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menegurnya. Sekaligus memberikan alasan mengapa hal itu tidak boleh dilakukannya.

Inilah yang seharusnya kita terapkan dalam metode pendidikan kita kepada putra-putri kita.

@ Pesantren “Tunas Ilmu” Kedungwuluh Purbalingga, 4 Shafar 1437 / 16 November 2015

* Diringkas oleh Abdullah Zaen dari Mencetak Generasi Rabbani karya Ummu Ihsan dan Abu Ihsan (hal. 140-143).

Leave a Reply